situation get out of plan. and ends with a lotta tears, both mine or his. sejauh nalar saia jalan, yang saia ingat cuma saia yang terus terusan meneteskan air mata sambil mencurahkan isi hati yang selama ini dipendam. and he said that, dia sayang saia, tapi dia nggak bisa terikat dan dia nggak percaya saia. nah, saia bisa apa selain hancur hati saia? pedih. sakit. berkeping – keping.
saia dan dia memutuskan untuk break. nggak tau apa kelanjutannya, tapi yang jelas saia dan dia no longer call each other “sayang” sekarang. back to old days. dia bilang gag akan narik kembali semua perkataannya. dia janji sama saia bakal berubak kearah yang lebih baik. malamnya saia mimpi dia. tapi saia lupa mimpinya gimana. yang jelas, dia berdiri disana, dengan gayanya yang biasa, nggak memandang kearah saia.
oke, saia bakal mencoba bertahan. saia nggak pengen membuatnya menyesal pernah sayang sama saia. mungkin ini memang yang terbaik buat dia, dan buat saia. saia nggak punya ide lain.
rasanya janggal nggak sms dia begitu saia bangun pagi. rasanya janggal saia nggak terima sms dia untuk nyuruh nyuruh saia makan. hidup saia tanpa dia = sepi. dia juga ngerasa, hidup tanpa saia pedih. dia juga terima kasih karena saia bisa tegar. padahal saia gag ingin bersedih karena dia bisa ketawa kayak gag ada yang terjadi. nggak ada yang pernah terjadi antara kita. nggak ada yang nangis semalam.
saia sudah kangen semua kebiasaannya sama saia. mungkin memang malam itu kali terakhir saia mencium tangannya waktu pisah *seperti biasanya kita cium tangan sama ortu* dan kali terakhir dia mengecup kening saia
perpisahan memang menyakitkan…